Team Building untuk Gen Z: Haruskah Cara Lama Diubah?

Posted by admin 24/08/2026 0 Comment(s)

Team Building untuk Gen Z: Haruskah Cara Lama Diubah?

 

Gen Z sekarang sudah mulai menjadi bagian besar dari dunia kerja. Bersamaan dengan itu, banyak perusahaan mulai memikirkan kembali cara mereka bekerja, berkomunikasi, sampai bagaimana membangun hubungan antaranggota tim. Team building akhirnya ikut masuk ke dalam pembicaraan ini. Selama bertahun-tahun, formatnya kurang lebih sama: karyawan dibawa keluar kantor, dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian mengikuti berbagai games sebelum akhirnya makan dan foto bersama. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan format tersebut. Tidak semua kegiatan perusahaan harus dibuat rumit atau mengikuti tren hanya karena pesertanya berasal dari generasi yang lebih muda.

 

Tapi ada hal yang mungkin memang perlu diperhatikan. Kalau sebuah team building hanya dibuat untuk membuat karyawan bersenang-senang selama beberapa jam, tentu tidak ada masalah. Namun, kalau perusahaan berharap kegiatan tersebut bisa membantu meningkatkan engagement, komunikasi, atau hubungan antaranggota tim, pemilihan aktivitasnya menjadi lebih penting. Gen Z sendiri juga tidak bisa dianggap sebagai satu kelompok yang memiliki preferensi sama. Ada yang suka kompetisi, ada yang lebih menikmati aktivitas santai, ada yang suka kegiatan fisik, dan ada yang justru lebih tertarik dengan sesuatu yang membutuhkan strategi. Jadi mungkin pertanyaannya bukan “games apa yang disukai Gen Z?”, tetapi lebih kepada “aktivitas seperti apa yang membuat tim ini benar-benar mau terlibat?”

 

Memulai dari Motivasi, Bukan Sekadar Aktivitas

 

Salah satu pendekatan yang bisa dipertimbangkan adalah motivation training. Kedengarannya mungkin tidak terlalu berhubungan dengan team building, tetapi sebenarnya motivasi punya peran besar dalam bagaimana seseorang bekerja di dalam tim. Setiap orang bisa memiliki alasan yang berbeda untuk memberikan usaha terbaiknya. Ada yang termotivasi oleh target dan pencapaian, ada yang membutuhkan apresiasi, dan ada juga yang ingin merasa bahwa pekerjaan mereka memang memiliki tujuan. Dalam sebuah tim yang terdiri dari berbagai generasi dan karakter, memahami perbedaan seperti ini bisa membantu perusahaan melihat bahwa membangun tim bukan hanya soal membuat orang lebih kompak saat bermain.

 

Motivation training dalam sebuah corporate gathering juga tidak harus berupa seminar panjang yang membuat peserta duduk diam selama berjam-jam. Sesi tersebut bisa dibuat lebih dekat dengan pengalaman mereka sehari-hari, terutama tentang bagaimana mereka melihat kontribusi masing-masing, apa yang membuat mereka tetap mau bekerja ketika menghadapi tekanan, dan bagaimana satu orang bisa memengaruhi anggota tim lainnya. Setelah sesi seperti ini, kegiatan bisa dilanjutkan dengan aktivitas yang lebih santai supaya peserta tidak hanya membicarakan teamwork, tetapi juga punya kesempatan untuk mengalaminya secara langsung.

 

Inflatable Games: Team Building Tidak Harus Selalu Serius

 

Di sinilah inflatable games bisa masuk. Dari luar, aktivitas seperti ini memang terlihat sederhana: ada obstacle, ada lomba, dan ada beberapa kelompok yang berusaha menjadi yang pertama menyelesaikan permainan. Tapi justru kesederhanaannya yang membuat orang lebih mudah terlibat. Setelah seharian bekerja di depan laptop, mungkin tidak ada salahnya memberikan kesempatan kepada karyawan untuk melakukan sesuatu yang sedikit lebih absurd daripada pekerjaan mereka sehari-hari.

 

Orang yang biasanya pendiam di kantor bisa tiba-tiba menjadi yang paling banyak memberikan instruksi ketika timnya sedang berlomba. Orang yang terbiasa mengambil keputusan mungkin harus belajar mengikuti strategi anggota lainnya. Ada juga yang ternyata jauh lebih kompetitif daripada yang selama ini terlihat. Hal-hal seperti ini mungkin tidak akan muncul ketika semua orang hanya berinteraksi dalam konteks pekerjaan, tetapi permainan memberikan situasi yang berbeda sehingga peserta bisa melihat sisi lain dari rekan kerja mereka.

 

Bukan berarti inflatable games otomatis membuat sebuah tim menjadi lebih kompak. Namun, permainan memberikan alasan bagi orang untuk berinteraksi tanpa harus dipaksa melakukan sesi bonding yang terasa terlalu formal. Mereka punya sesuatu untuk dikerjakan bersama, ada sedikit kompetisi, dan biasanya cukup banyak hal yang bisa ditertawakan setelah permainan selesai. Untuk kegiatan gathering, pengalaman seperti ini juga bisa menjadi jeda yang menyenangkan setelah sesi yang lebih serius.

 

City Amazing Race: Ketika Peserta Harus Menentukan Strateginya Sendiri

 

Kalau ingin aktivitas yang memberikan peserta lebih banyak ruang untuk mengambil keputusan, City Amazing Race bisa menjadi pilihan yang menarik. Peserta tidak hanya mengikuti instruksi dari fasilitator, tetapi diberikan tujuan dan harus menentukan sendiri bagaimana cara mencapainya. Mereka harus membaca clue, mencari lokasi, membagi tugas, menentukan strategi, dan mengatur waktu. Kalau salah jalan atau strategi pertama tidak berhasil, mereka harus mencari cara lain.

 

Dari situ, dinamika dalam kelompok biasanya mulai terlihat dengan sendirinya. Ada yang secara natural mengambil peran sebagai pemimpin, ada yang lebih teliti membaca petunjuk, ada yang cepat mengambil keputusan, dan ada yang lebih bagus dalam mencari arah. Tidak semua orang harus memiliki kemampuan yang sama karena setiap challenge bisa membutuhkan kontribusi yang berbeda. Justru pembagian peran seperti ini yang membuat City Amazing Race menarik sebagai aktivitas team building.

 

Untuk City Amazing Race Bandung, lingkungan kota juga menjadi bagian dari pengalaman. Peserta tidak hanya bermain di satu venue, tetapi bergerak dari satu titik ke titik lain sambil mencari petunjuk dan menyelesaikan berbagai challenge. Mereka harus memperhatikan lingkungan sekitar, berkomunikasi dengan anggota kelompok, dan tetap memikirkan waktu karena ada kelompok lain yang juga sedang berusaha mencapai tujuan yang sama. Hasilnya terasa lebih seperti sebuah adventure bersama daripada sekadar mengikuti rangkaian games yang sudah disiapkan.

 

Jadi, Haruskah Team Building untuk Gen Z Berubah?

 

Mungkin kita tidak perlu membuat kategori khusus bernama “team building untuk Gen Z”. Gen Z juga tidak semuanya memiliki karakter dan kesukaan yang sama, sama seperti generasi lainnya. Yang lebih penting adalah menyesuaikan kegiatan dengan kondisi dan kebutuhan tim. Motivation training bisa digunakan ketika perusahaan ingin membicarakan motivasi dan engagement, inflatable games bisa memberikan suasana yang lebih santai dan interaktif, sementara City Amazing Race bisa menggabungkan komunikasi, strategi, problem solving, dan kompetisi.

 

Ketiganya juga tidak harus berdiri sendiri. Sebuah corporate gathering bisa menggabungkan beberapa jenis aktivitas selama semuanya memang sesuai dengan tujuan acara dan karakter pesertanya. Tidak perlu memaksakan semua kegiatan menjadi “kekinian” hanya karena sebagian besar pesertanya Gen Z. Yang lebih penting adalah memberikan mereka pengalaman yang membuat mereka benar-benar ikut terlibat, bukan sekadar hadir karena acara tersebut sudah masuk kalender perusahaan.

 

Pada akhirnya, mungkin yang perlu berubah bukan team building-nya karena Gen Z, tetapi cara kita merancangnya. Sebuah kegiatan tidak harus selalu mengikuti tren terbaru untuk menjadi menarik. Kadang motivation training yang tepat, games yang membuat orang tertawa, atau sebuah City Amazing Race yang membuat satu kelompok panik mencari clue bisa memberikan pengalaman yang jauh lebih berkesan daripada kegiatan yang terlihat modern tetapi sebenarnya tidak cocok dengan timnya.

 

Dan mungkin itu yang paling penting dari sebuah corporate gathering: bukan membuat semua orang pulang dengan perasaan bahwa mereka baru saja mengikuti acara yang luar biasa, tetapi memberikan mereka kesempatan untuk mengenal rekan kerja sedikit lebih jauh dari yang biasanya mereka lihat di kantor.

Leave a Comment