Ketika Target Jadi Prioritas: Masih Pentingkah Empati di Tempat Kerja?

Posted by admin 20/08/2026 0 Comment(s)

Ketika Target Jadi Prioritas: Masih Pentingkah Empati di Tempat Kerja?

 

Target harus tercapai. Deadline harus selesai. KPI harus dipenuhi. Produktivitas harus meningkat. Di dunia kerja yang semakin cepat, hampir setiap perusahaan memiliki berbagai ukuran untuk memastikan bahwa pekerjaan berjalan sesuai dengan tujuan bisnis. Semua itu tentu penting. Perusahaan membutuhkan target untuk berkembang, dan karyawan membutuhkan tujuan yang jelas untuk mengetahui apa yang harus dicapai. Namun, di tengah berbagai angka dan indikator tersebut, ada satu hal yang terkadang terlupakan: orang-orang yang berada di balik angka tersebut.

 

Seorang karyawan tidak hanya datang ke kantor sebagai sebuah posisi atau fungsi dalam organisasi. Mereka datang dengan pengalaman, tekanan, masalah pribadi, ambisi, rasa lelah, dan kondisi yang mungkin tidak selalu terlihat oleh rekan kerja maupun atasannya. Ketika fokus terhadap performa menjadi terlalu dominan, ada risiko bahwa manusia di balik pekerjaan tersebut mulai dipandang hanya berdasarkan hasil yang mereka berikan. Di sinilah empati menjadi penting. Bukan sebagai pengganti produktivitas, tetapi sebagai bagian dari bagaimana sebuah tim dapat bekerja secara sehat dan berkelanjutan.

 

Ketika Semua Orang Dituntut untuk Terus Bergerak

 

Tekanan untuk terus berkembang bukan sesuatu yang selalu buruk. Target yang jelas justru dapat membuat tim lebih terarah dan membantu perusahaan bergerak maju. Masalahnya muncul ketika hampir setiap situasi selalu dilihat dari sudut pandang performa: apakah target tercapai, apakah pekerjaan selesai tepat waktu, apakah angka meningkat, dan apakah seseorang memenuhi ekspektasi. Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi satu-satunya ukuran yang dianggap penting, kondisi manusia yang menjalankan pekerjaan tersebut dapat dengan mudah terabaikan.

 

Dalam situasi seperti ini, seorang karyawan yang sedang mengalami kesulitan mungkin merasa tidak memiliki ruang untuk mengatakannya. Anggota tim yang kewalahan bisa memilih diam karena takut dianggap tidak mampu. Rekan kerja yang sedang menghadapi masalah pribadi mungkin tetap mengatakan “saya baik-baik saja” karena pekerjaan harus terus berjalan. Lama-kelamaan, komunikasi dalam tim dapat menjadi semakin transaksional. Kita berbicara tentang apa yang harus diselesaikan, kapan deadline-nya, dan siapa yang bertanggung jawab, tetapi semakin jarang berbicara tentang bagaimana orang-orang di dalam tim sebenarnya menjalani proses tersebut.

 

Padahal, ketika tekanan meningkat, kemampuan sebuah tim untuk saling memahami justru menjadi semakin penting.

 

Empati Tidak Berarti Menurunkan Standar

 

Membicarakan empati di tempat kerja terkadang menimbulkan kesalahpahaman. Seolah-olah menjadi empatik berarti membiarkan pekerjaan tidak selesai, menurunkan standar, atau selalu memaklumi kesalahan. Padahal, empati dan akuntabilitas bukan dua hal yang bertentangan. Seorang pemimpin tetap dapat meminta anggota tim bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sambil berusaha memahami mengapa seseorang mengalami kesulitan. Seorang rekan kerja tetap dapat memberikan kritik sambil menyampaikannya dengan cara yang menghargai orang lain.

 

Bahkan, memahami kondisi seseorang dapat membantu tim menentukan dukungan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan agar orang tersebut dapat kembali bekerja dengan baik. Empati bukan tentang mengatakan, “Tidak apa-apa kalau target tidak tercapai.” Empati lebih dekat dengan pertanyaan, “Apa yang terjadi, dan apa yang bisa kita lakukan agar kamu bisa kembali mencapainya?” Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi cara sebuah tim merespons kesulitan dapat membentuk budaya kerja yang sangat berbeda.

 

Sebuah tim tetap bisa memiliki target yang tinggi dan standar kerja yang kuat sekaligus memiliki hubungan yang sehat antaranggota. Empati justru dapat membantu tim bekerja lebih efektif karena anggota merasa lebih aman untuk berkomunikasi, meminta bantuan, dan menyampaikan masalah sebelum masalah tersebut menjadi lebih besar. Bayangkan dua tim yang sama-sama menghadapi deadline yang ketat. Di tim pertama, setiap orang hanya berfokus menyelesaikan bagiannya sendiri. Ketika satu anggota mengalami kesulitan, ia memilih diam karena merasa bahwa meminta bantuan akan menunjukkan kelemahan. Di tim kedua, anggota tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, tetapi mereka juga terbiasa saling memperhatikan. Ketika seseorang mulai kewalahan, anggota lain dapat menawarkan bantuan atau setidaknya memastikan bahwa masalah tersebut diketahui oleh tim.

 

Kedua tim mungkin memiliki target yang sama. Namun, cara mereka mencapainya bisa sangat berbeda. Dalam jangka panjang, kemampuan untuk bekerja bersama ketika menghadapi tekanan dapat menjadi salah satu kekuatan sebuah tim. Bukan karena semua orang selalu merasa nyaman, tetapi karena mereka tahu bahwa mereka tidak harus menghadapi setiap tantangan sendirian.

 

Empati Harus Menjadi Bagian dari Cara Tim Bekerja

 

Membangun tim yang lebih empatik tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Sering kali, hal tersebut dimulai dari kebiasaan sederhana: benar-benar mendengarkan ketika seseorang berbicara, memberikan kesempatan kepada anggota tim yang lebih pendiam untuk menyampaikan pendapat, tidak langsung mengasumsikan seseorang malas ketika performanya menurun, atau sekadar menanyakan keadaan rekan kerja tanpa langsung menghubungkannya dengan pekerjaan.

 

Hal-hal seperti ini terdengar sederhana, tetapi membutuhkan kesadaran. Ketika sebuah organisasi terbiasa bergerak dengan cepat, berhenti sejenak untuk memperhatikan orang lain justru bisa menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Karena itu, membangun empati dalam tim bukan hanya persoalan individu. Lingkungan kerja juga memiliki peran dalam menentukan apakah orang merasa aman untuk terbuka, meminta bantuan, dan menunjukkan sisi manusiawi mereka.

 

Sayangnya, dinamika tersebut tidak selalu mudah terlihat dalam rutinitas pekerjaan sehari-hari. Di kantor, seseorang mungkin terlihat sangat aktif dalam rapat, sementara orang lain lebih banyak diam. Seseorang mungkin selalu mengambil alih pekerjaan kelompok, sementara anggota lainnya terbiasa mengikuti. Kita mungkin mengenal rekan kerja berdasarkan jabatan dan tanggung jawabnya, tetapi belum tentu benar-benar memahami bagaimana mereka berkomunikasi dan bekerja ketika berada dalam situasi yang berbeda.

 

Di sinilah kegiatan bersama dapat memberikan perspektif yang berbeda.

 

Dari Team Building ke Motivation

 

Aktivitas team building dapat memberikan ruang bagi anggota tim untuk berinteraksi di luar pola kerja mereka sehari-hari. Ketika sekelompok orang diberikan tantangan yang harus diselesaikan bersama, pola komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan cara mereka merespons anggota lain dapat muncul dengan sendirinya. Siapa yang mendengarkan? Siapa yang langsung mengambil alih? Siapa yang memperhatikan anggota yang tertinggal? Siapa yang membantu ketika strategi kelompok tidak berjalan sesuai rencana?

 

Dengan fasilitasi dan refleksi yang tepat, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan bagi peserta untuk memahami kembali bagaimana mereka bekerja bersama sebagai sebuah tim. Team building tidak harus berhenti pada permainan yang menyenangkan. Aktivitas dapat menjadi cara untuk membuka percakapan mengenai komunikasi, kerja sama, kepercayaan, dan bagaimana setiap individu berkontribusi terhadap kelompok.

 

Namun, hubungan antaranggota tim hanyalah salah satu bagian dari persoalan. Ada kalanya sebuah tim sudah cukup dekat dan mampu bekerja sama, tetapi energi mereka mulai menurun. Target tetap ada, pekerjaan tetap berjalan, tetapi rasa antusiasme terhadap apa yang dilakukan mulai berkurang. Pada titik ini, perusahaan mungkin perlu melihat lebih jauh dari sekadar hubungan antaranggota tim dan mulai bertanya: Apa yang membuat karyawan tetap ingin memberikan yang terbaik? Apa yang membuat mereka merasa pekerjaan mereka memiliki arti? Bagaimana mereka menghadapi tekanan, perubahan, dan kegagalan? Dan bagaimana sebuah tim dapat kembali menemukan energi untuk bergerak menuju tujuan yang sama?

 

Motivasi bukan sesuatu yang bisa dipertahankan hanya dengan memberikan target baru. Manusia membutuhkan alasan untuk bergerak, rasa memiliki terhadap apa yang mereka kerjakan, serta lingkungan yang membuat mereka merasa bahwa kontribusinya memiliki arti. Karena itu, setelah membangun koneksi dalam sebuah tim, perusahaan juga dapat memberikan ruang bagi karyawan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan melihat kembali apa yang mendorong mereka dalam bekerja.

 

Motivation Training: Mengembalikan Energi di Balik Target

 

Melalui Motivation Training, perusahaan dapat memberikan ruang tersebut. Program motivasi dapat dirancang untuk membantu peserta merefleksikan pola pikir, menghadapi tantangan, membangun kembali semangat, serta melihat bagaimana kontribusi individu mereka terhubung dengan tujuan yang lebih besar. Bagi perusahaan, kegiatan seperti ini bukan hanya tentang membuat karyawan merasa lebih bersemangat selama satu hari, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membangun kembali kesadaran, energi, dan rasa kebersamaan dalam tim, terutama setelah melalui periode kerja yang penuh tekanan atau perubahan.

 

Di Rovers Global Indonesia, Motivation Training dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan perusahaan yang dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta. Program dapat dipadukan dengan aktivitas interaktif, team building, maupun sesi refleksi sehingga peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mengalami proses yang memungkinkan mereka berinteraksi dan melihat kembali cara mereka bekerja sebagai individu maupun sebagai bagian dari tim.

 

Pada akhirnya, perusahaan memang membutuhkan target. Perusahaan membutuhkan KPI, produktivitas, dan hasil. Tetapi angka-angka tersebut hanya dapat dicapai oleh manusia. Maka mungkin, membangun tempat kerja yang kuat bukan berarti memilih antara performance atau empathy. Keduanya justru dapat berjalan bersama ketika sebuah perusahaan memahami bahwa manusia yang merasa didengar, dihargai, dan memiliki tujuan juga memiliki ruang yang lebih baik untuk memberikan kontribusi terbaiknya.

 

Karena mungkin, tim yang kuat bukanlah tim yang selalu mendorong anggotanya untuk bekerja lebih keras.

 

Melainkan tim yang tahu kapan harus mengejar target, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus membantu satu sama lain membawa beban.

Leave a Comment