Daftar belanja Anda kosong!
Dalam sebuah organisasi, menjadi manajer berarti memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap pekerjaan dan orang lain. Seorang manajer dituntut untuk mengambil keputusan, menjaga pencapaian target, menyelesaikan masalah, sekaligus memastikan timnya dapat bekerja dengan baik. Dengan tanggung jawab sebesar itu, wajar apabila seorang manajer memiliki kepercayaan diri yang kuat terhadap kemampuan dan pengalamannya.Namun, ada titik ketika kepercayaan diri tersebut mulai memengaruhi cara seseorang melihat orang lain.
Seorang manajer mungkin mulai merasa bahwa cara kerjanya adalah cara yang paling efektif. Masukan dari anggota tim semakin jarang dipertimbangkan karena dianggap kurang berpengalaman. Keputusan lebih sering dibuat sendiri, sementara anggota tim hanya menerima arahan. Ketika kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus, yang muncul bukan lagi sekadar gaya kepemimpinan yang tegas, melainkan kecenderungan untuk melihat berbagai situasi terutama dari sudut pandang diri sendiri.
Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dapat dikaitkan dengan egocentrism. Dalam konteks manajemen, egocentrism tidak selalu terlihat dalam bentuk perilaku yang kasar atau terang-terangan menunjukkan superioritas. Sering kali, justru muncul melalui kebiasaan sehari-hari yang dianggap normal dalam menjalankan pekerjaan.
Seorang pemimpin yang selalu ingin menjadi orang terakhir yang mengambil keputusan, misalnya, mungkin melihat dirinya sebagai orang yang bertanggung jawab. Seorang manajer yang sering memotong pembicaraan anggota tim mungkin merasa sedang menghemat waktu. Bahkan kecenderungan untuk melakukan micromanagement bisa berawal dari keinginan memastikan bahwa pekerjaan dilakukan dengan benar. Persoalannya bukan pada satu perilaku tersebut, melainkan ketika semuanya menjadi pola.
Pengalaman merupakan salah satu alasan seseorang dipercaya menjadi manajer. Ia memiliki pengetahuan mengenai pekerjaan, memahami proses yang berjalan, dan biasanya sudah menghadapi berbagai situasi sebelum menduduki posisi tersebut. Tetapi pengalaman yang sama juga dapat membuat seseorang terlalu yakin bahwa ia sudah memahami hampir semua masalah yang mungkin muncul.Hal ini dapat menjadi persoalan ketika pengalaman mulai menggantikan keinginan untuk mendengarkan.
Seorang anggota tim yang lebih junior mungkin memiliki cara pandang yang berbeda terhadap suatu masalah. Karyawan yang berhadapan langsung dengan pelanggan mungkin mengetahui sesuatu yang tidak terlihat dari level manajemen. Bahkan orang yang baru bergabung dengan perusahaan dapat melihat persoalan yang selama ini dianggap biasa oleh orang-orang yang sudah terlalu lama berada di dalam sistem. Jika seorang manajer selalu menganggap pengalaman pribadinya sebagai acuan utama, informasi tersebut berisiko tidak pernah sampai kepadanya.
Pada akhirnya, masalahnya bukan lagi apakah manajer tersebut memiliki jawaban yang benar atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah ia masih memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa orang lain juga memiliki jawaban yang layak dipertimbangkan.
Efek dari egocentric leadership juga tidak selalu muncul dalam bentuk konflik terbuka. Justru, salah satu tanda yang lebih sulit dikenali adalah ketika anggota tim mulai berhenti memberikan pendapat. Mereka mungkin tetap mengikuti arahan dan menyelesaikan pekerjaan seperti biasa. Namun, mereka tidak lagi merasa perlu menyampaikan ide, mempertanyakan keputusan, atau mengangkat masalah yang mereka temukan. Dalam jangka panjang, organisasi dapat kehilangan banyak informasi hanya karena orang-orang di dalamnya tidak lagi merasa bahwa suara mereka akan membawa perubahan. Kondisi tersebut tentu tidak hanya memengaruhi hubungan antara manajer dan karyawan. Ia juga dapat memengaruhi kreativitas, kolaborasi, serta rasa memiliki terhadap pekerjaan.
Sebuah tim pada akhirnya tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan arahan. Mereka membutuhkan pemimpin yang dapat membuat anggotanya merasa bahwa kontribusi mereka memang memiliki nilai.
Ketika berbicara mengenai kepemimpinan, solusi yang sering muncul adalah meningkatkan kesadaran. Manajer diminta untuk lebih terbuka, lebih banyak mendengarkan, atau lebih percaya kepada tim. Semua itu memang penting. Namun, mengetahui apa yang seharusnya dilakukan belum tentu membuat seseorang mampu melakukannya secara konsisten.
Perilaku kepemimpinan terbentuk melalui kebiasaan. Karena itu, mengubahnya juga membutuhkan kesempatan untuk melihat kembali kebiasaan tersebut dan memahami dampaknya terhadap orang lain. Di sinilah motivation training dapat memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan semangat kerja.
Program yang dirancang dengan pendekatan experiential learning dapat memberikan situasi di mana peserta harus berkomunikasi, mengambil keputusan, membagi peran, dan menyelesaikan masalah bersama. Dalam situasi seperti ini, pola kepemimpinan yang biasanya tersembunyi dalam rutinitas kantor dapat menjadi lebih terlihat.
Seorang manajer yang terbiasa mengambil keputusan sendiri mungkin menemukan bahwa strategi tersebut tidak efektif ketika sebuah tantangan membutuhkan kontribusi dari seluruh anggota kelompok. Sebaliknya, ketika ia memberikan ruang kepada orang lain, hasil yang diperoleh bisa justru lebih baik.
Pengalaman semacam ini memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi tanpa harus menjadikan peserta sebagai “objek yang sedang diperbaiki”.
Itulah mengapa team building dapat menjadi bagian dari proses pengembangan kepemimpinan. Ketika aktivitas dirancang dengan tujuan yang jelas, peserta tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi di luar lingkungan kerja, tetapi juga menghadapi situasi yang membutuhkan kerja sama dan kepercayaan.
Dalam sebuah tantangan kelompok, misalnya, seorang manajer tidak dapat menyelesaikan semuanya sendiri. Ia harus menentukan kapan memimpin, kapan mendengarkan, kapan mendelegasikan, dan kapan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil peran.Situasi tersebut sederhana, tetapi relevan dengan kehidupan kerja sehari-hari.
Perbedaannya adalah, dalam aktivitas team building, peserta dapat melihat konsekuensi dari cara mereka bekerja secara lebih langsung. Ketika komunikasi tidak berjalan, kelompok akan merasakannya. Ketika seseorang terlalu mendominasi, anggota lain mungkin kehilangan ruang untuk berkontribusi. Sebaliknya, ketika setiap orang diberikan kesempatan untuk menggunakan kemampuannya, penyelesaian masalah dapat menjadi lebih efektif.Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan refleksi ketika peserta kembali ke lingkungan kerja.
Mengurangi egocentrism dalam manajemen bukan berarti menghilangkan otoritas seorang pemimpin. Organisasi tetap membutuhkan orang yang mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk menggunakan otoritas tersebut tanpa menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari setiap proses.
Seorang manajer yang baik tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Ia juga tidak harus memiliki seluruh jawaban. Salah satu ukuran keberhasilannya justru dapat dilihat dari seberapa jauh anggota timnya berkembang menjadi lebih mandiri, berani mengambil keputusan, dan mampu memberikan kontribusi.
Pada akhirnya, kepemimpinan yang sehat bukan hanya mengenai apa yang dapat dilakukan oleh seorang manajer. Ia juga mengenai apa yang dapat dicapai oleh orang-orang yang dipimpinnya. Karena itu, perubahan dari “saya” menjadi “kita” bukan sekadar perubahan cara berbicara. Ini adalah perubahan cara melihat keberhasilan.
Di Rovers Adventure Indonesia, pendekatan motivation training dan experiential team building dapat dirancang untuk memberikan pengalaman yang mendorong komunikasi, kolaborasi, kepercayaan, dan refleksi dalam tim. Bukan sekadar membawa peserta keluar dari kantor, tetapi memberikan ruang bagi mereka untuk melihat kembali bagaimana mereka bekerja bersama. Karena terkadang, cara terbaik untuk memahami bagaimana seseorang memimpin bukan dengan bertanya kepadanya tentang gaya kepemimpinannya. Tetapi dengan melihat bagaimana ia bekerja ketika keberhasilan tidak dapat dicapai seorang diri.
Leave a Comment